MAKASSAR, MAKASSARTREND — Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menambah jajaran dewan profesornya melalui pengukuhan empat guru besar baru dalam Rapat Paripurna Senat Akademik terbatas yang diselenggarakan di Ruang Senat Akademik, Kampus Tamalanrea, Makassar, Senin (25/5/2026). Upacara penerimaan jabatan profesor ini melingkupi satu guru besar dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan tiga guru besar dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP). Momentum ini tidak hanya menjadi penanda capaian akademik tertinggi bagi para dosen, tetapi juga penegasan arah strategis Unhas dalam mereorientasi riset agar memiliki implikasi praktis bagi masyarakat serta menjadi motor penggerak menuju target Indonesia Emas 2045.
Keempat profesor yang dikukuhkan tersebut adalah Prof. Kamsinah sebagai Guru Besar Bidang Sosiopragmatik pada Fakultas Ilmu Budaya, serta tiga fungsionaris dari Fakultas Teknologi Pertanian, yaitu Prof. Andi Nur Faidah Rahman (Bidang Ilmu Teknologi Pengolahan Pascapanen), Prof. Iqbal (Bidang Alat dan Mesin Pertanian), dan Prof. Adiansyah Syarifuddin (Bidang Teknologi Pengolahan dan Pengawetan). Diversifikasi keahlian para guru besar baru ini dinilai sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan berbasis teknologi pengolahan agraris dan kajian interaksi sosial kebahasaan.
Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa mengapresiasi tesis serta pidato pengukuhan yang disampaikan oleh para guru besar. Ia menekankan bahwa tolok ukur kesuksesan institusi perguruan tinggi kini telah bergeser; tidak lagi sekadar bertumpu pada pemenuhan aspek administratif atau akumulasi kuantitatif publikasi ilmiah, melainkan pada daya guna hasil riset tersebut dalam memecahkan problem riil di masyarakat. Hilirisasi inovasi yang proaktif dan adaptif terhadap disrupsi zaman menjadi mutlak agar luaran akademik dari kampus mampu memperkuat daya saing ekonomi dan teknologi bangsa di kancah global.
Selain menekankan fungsionalitas riset, rektor yang akrab disapa Prof. JJ ini juga menyoroti aspek moralitas dan budaya akademik yang bermartabat. Di tengah dinamika keterbukaan informasi, dunia kampus diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan bagi etika, nilai kesantunan, serta keteladanan dalam memproduksi diskursus di ruang publik maupun akademik. Kesiapan menyongsong transformasi demografi pada tahun 2045 menuntut integrasi antara kecerdasan intelektual dan penguatan karakter yang beradab.
Secara institusional, Unhas kini menaruh perhatian besar pada akselerasi peran dosen-dosen muda sebagai motor penggerak ekosistem akademik. Regenerasi talenta peneliti yang bergerak cepat dan inovatif dipandang sebagai kunci untuk menciptakan kemandirian bangsa. Melalui pengukuhan empat profesor baru ini, Universitas Hasanuddin berupaya memperkuat komitmennya sebagai entitas pendidikan yang tidak hanya unggul dalam tataran teori, tetapi juga kokoh dalam kontribusi sosial-ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. (MH)














