JAKARTA, MAKASSARTREND — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menunjukkan resiliensi dengan bergerak menguat tipis di tengah tren pelemahan mayoritas mata uang di kawasan Asia pada perdagangan Jumat (5/6/2026) pagi.
Berdasarkan data ekonomi Refinitiv, mata uang Garuda berhasil menguat tipis sebesar 0,03 persen ke posisi Rp18.015 per dolar AS, meskipun posisinya secara umum masih tertahan di atas level psikologis baru.
Ketahanan rupiah ini terjadi secara simultan bersama penguatan yen Jepang yang naik 0,04 persen ke posisi JPY 159,2 per dolar AS serta baht Thailand yang memimpin penguatan sebesar 0,09 persen ke posisi THB 32,65 per dolar AS.
Di sisi lain, tekanan pasar paling dalam pagi ini dialami oleh won Korea Selatan yang melemah tajam hingga 0,98 persen ke posisi KRW 1.546,4 per dolar AS, disusul oleh ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,50 persen ke posisi MYR 4,030 per dolar AS.
Tren pelemahan regional ini juga menyeret dolar Taiwan yang turun 0,19 persen ke posisi TWD 31,482 per dolar AS, peso Filipina yang melemah 0,18 persen ke posisi PHP 61,535 per dolar AS, serta dolar Singapura yang turun tipis 0,05 persen ke posisi SGD 1,284 per dolar AS.
Koreksi dengan persentase yang lebih rendah juga terlihat pada mata uang utama lainnya, di mana dong Vietnam turun sebesar 0,04 persen dan yuan China terkoreksi tipis 0,01 persen terhadap mata uang negara adidaya tersebut.
Apresiasi terbatas yang dialami rupiah ini tergolong impresif mengingat indeks dolar AS saat ini tengah mendapatkan sentimen positif yang kuat dari pelaku pasar global dengan bertahan stagnan pada posisi tinggi di level 99,415.
Permintaan terhadap mata uang negara adidaya tersebut terus meningkat seiring dengan fungsinya sebagai aset aman (*safe haven*) di tengah eskalasi konflik geopolitik yang kembali memanas di kawasan Teluk.
Ketegangan semakin meningkat setelah upaya diplomasi internasional menghadapi hambatan besar, termasuk penolakan klausul gencatan senjata baru di Lebanon serta keputusan militer regional untuk mempertahankan pasukan di perbatasan.
Dampak dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah ini memicu lonjakan harga minyak mentah jenis Brent yang kini bertahan kokoh di atas level 90 dolar AS per barel akibat aksi saling serang yang melibatkan kekuatan militer global pekan ini.
Lonjakan harga komoditas energi serta tingginya risiko ketidakpastian pasar secara otomatis mempersempit ruang penguatan bagi mata uang negara-negara berkembang.
Kondisi fundamental makroekonomi tersebut pada akhirnya memaksa para investor untuk bersikap lebih konservatif dalam mengelola portofolio aset mereka di pasar keuangan Asia.***




