MAKASSAR, MAKASSARTREND — Menjelang perhelatan akbar Piala Dunia 2026, atmosfer sepak bola sejagat mulai memanas. Di balik megahnya kompetisi yang dinanti jutaan pasang mata, ada satu benda ikonik yang menjadi muara dari seluruh ambisi: trofi emas Piala Dunia. Simbol supremasi tertinggi ini ternyata menyimpan narasi sejarah yang panjang, penuh drama geopolitik, kriminalitas, hingga mahakarya seni murni. Catatan sejarah olahraga menunjukkan bahwa piala yang diperebutkan hari ini merupakan generasi kedua setelah tumbangnya trofi pertama yang legendaris.
Lahirnya lambang kejayaan ini berawal pada tahun 1930 di Uruguay, saat turnamen sepak bola dunia pertama kali digelar. Kala itu, trofi pertama yang dibuat oleh pemahat Prancis, Abel Lafleur, diberi nama *Victoria*. Bentuknya sangat klasik, berupa cangkir segi delapan yang diangkat oleh figur bersayap dewi kemenangan mitologi Yunani, Nike. Ketika Uruguay menumbangkan Argentina 4-2 di final edisi perdana tersebut, piala inilah yang diangkat ke udara. Baru pada tahun 1946, FIFA resmi mengubah namanya menjadi Trofi Jules Rimet sebagai bentuk dedikasi kepada sang Presiden FIFA yang menginisiasi kompetisi.
Sebagai simbol global, Trofi Jules Rimet tidak luput dari pusaran konflik dunia. Selama Perang Dunia II, trofi ini harus disembunyikan secara rahasia di dalam sebuah kotak sepatu di bawah tempat tidur oleh Wakil Presiden FIFA asal Italia, Ottorino Barassi, agar tidak dijarah oleh pasukan Nazi. Namun, drama paling menggemparkan terjadi pada Maret 1966 di London. Menjelang pembukaan Piala Dunia di Inggris, trofi tersebut dicuri saat dipamerkan di Westminster Central Hall. Beruntung, seminggu kemudian seekor anjing bernama Pickles menemukan trofi itu terkubur di bawah pagar tanaman di selatan London.
Sesuai aturan kuno FIFA, negara yang berhasil memenangkan Piala Dunia sebanyak tiga kali berhak memiliki Trofi Jules Rimet secara permanen. Brasil berhasil melakukannya pada tahun 1970. Sayangnya, takdir trofi asli tersebut berakhir tragis ketika kembali dicuri di markas Federasi Sepak Bola Brasil di Rio de Janeiro pada tahun 1983 dan diduga kuat telah dilebur oleh para pencuri menjadi batangan emas.
Hilangnya hak kepemilikan atas Jules Rimet memaksa FIFA memproduksi simbol baru menjelang Piala Dunia 1974. Melalui sayembara ketat yang diikuti oleh para seniman dari tujuh negara, desain karya pemahat asal Italia, Silvio Gazzaniga, terpilih sebagai pemenang tunggal. Diproduksi oleh pabrikan GDE Bertoni, trofi baru ini menampilkan visualisasi dua figur atlet yang merayakan kemenangan sembari menyangga bola dunia. Desain dinamis ini melambangkan garis energi, semangat olahraga, serta persatuan global yang kokoh.
Secara spesifikasi material, mahakarya Gazzaniga ini jauh lebih mewah dan kokoh dibandingkan pendahulunya. Memiliki tinggi 36,8 sentimeter dengan diameter dasar 13 sentimeter, trofi ini memanfaatkan material utama berupa lima kilogram emas murni 18 karat padat dengan total bobot keseluruhan mencapai 6,1 kilogram. Keindahan estetikanya dipertegas oleh dua cincin konsentris dari batuan perunggu berharga (*malachite*) hijau di bagian bawahnya, yang berfungsi sebagai ruang sakral untuk mengukir nama-nama negara juara sejak era 1974.
Belajar dari rentetan sejarah kriminalitas masa lalu, FIFA kini menerapkan regulasi yang sangat ketat mengenai kepemilikan piala. Negara yang keluar sebagai juara dunia saat ini tidak lagi diizinkan membawa pulang dan menyimpan trofi asli emas 18 karat tersebut ke negaranya secara permanen. Skuad pemenang hanya diberikan kesempatan memegang trofi asli saat prosesi selebrasi di lapangan hijau. Setelah itu, trofi wajib dikembalikan ke markas besar FIFA di Swiss untuk disimpan, sementara negara juara akan dianugerahi sebuah replika resmi berlapis emas (FIFA World Cup Winner’s Trophy) untuk dipajang di negara mereka.





