Ayatollah Belum Tumbang

Ditulis oleh Mattewakkan

Empat puluh lima tahun sudah Amerika Serikat (AS) mencoba menumbangkan rezim di Iran. Dari embargo minyak Carter hingga sanksi finansial Obama, dari isolasi diplomatik Bush hingga pembunuhan jenderal di era Trump pertama, semua gagal.

Read More

Kini, Januari 2026, Donald Trump kembali dengan ancaman sanksi tarif 25% bagi siapa pun yang berani berdagang dengan Teheran, hasutan demonstrasi jalanan, ancaman serangan siber dan rudal.

Republik Islam Iran tetap berdiri. Ekonominya memang remuk, sekutu regionalnya melemah, tapi rezim ideologis Ayatollah tak juga tumbang. Sejarah seperti sedang mengulangi dirinya, dan Washington belum juga belajar.

Kembali ke musim gugur 1980, AS terperangkap dalam pusaran politik yang mencekam. Krisis sandera Iran sudah berlangsung hampir setahun sejak mahasiswa garis keras merebut Kedubes AS di Teheran pada November 1979 dan menahan 52 diplomat.

Jimmy Carter (presiden AS saat itu) berjuang keras bernegosiasi untuk membebaskan mereka, berharap keberhasilan itu menjadi tiket kemenangannya di pemilu November 1980. Di sisi lain, kandidat partai Republik Ronald Reagan dan wakilnya George H.W. Bush menyerang habis-habisan, menyebut Carter lemah dan tak berdaya.

Lalu muncul cerita misterius tentang October Surprise. Tim Reagan diduga melakukan kontak rahasia dengan perwakilan Ayatollah Khomeini di Paris dan Madrid sekitar pertengahan Oktober. William Casey, manajer kampanye Reagan, yang memimpin pertemuan.

George Bush konon ikut terbang ke Eropa untuk menyampaikan janji—setelah Reagan menang, senjata dan dana akan mengalir deras. Iran sedang kesulitan menghadapi ancaman invasi Irak, dan sanksi Carter sudah menyengat. Mereka memilih menunda pembebasan sandera, membiarkan Carter tenggelam dalam lumpur politik.

Pemilu 4 November berlangsung. Reagan menang telak dengan 489 suara elektoral lawan 49 milik Carter. Delapan belas hari kemudian, saat Reagan mengangkat tangan di podium pelantikan pada 20 Januari 1981, pesawat membawa sandera mendarat di pangkalan AS. Timing itu terlalu pas. Kecurigaan pun menguat.

Kesaksian dari pilot Israel Ari Ben-Menashe, staf kampanye seperti Jamie Honegger, ditambah dokumen FBI yang bocor, menguatkan narasi konspirasi. Kongres menyelidikinya bertahun-tahun, namun laporan resmi 1993 menyatakan bukti tak cukup, meski ketua panel Henry Hyde sendiri meragukan kesimpulan itu.

Kejadian ini mengubah arah sejarah. Carter runtuh, Reagan bangkit dengan janji kekuatan militer. Iran mendapat apa yang diinginkan: dukungan diam-diam via Israel, yang akhirnya terungkap dalam skandal Iran-Contra. October Surprise menjadi legenda politik hitam, campuran fakta dan kabut. Ia mengingatkan kita bahwa kekuasaan sering lahir dari kesepakatan gelap.

Akankah upaya AS selanjutnya, entah Trump (lagi) atau siapa pun, benar-benar menumbangkan Republik Islam Iran? atau hanya akan menambah babak baru dalam siklus kegagalan panjang ini?

Makassar, 19 Januari 2026

 

Related posts