Harga Minyak Iran Anjlok akibat Melemahnya Permintaan dari Kilang Independen China

Fasilitas produksi minyak Iran di kawasan Teluk. Blokade ketat dari Amerika Serikat kini membuat volume ekspor energi negara tersebut menyusut drastis ke level terendah. (Foto Arsip: REUTERS/Raheb Homavandi)

SINGAPURA, MAKASSARTREND — Harga minyak mentah asal Iran dilaporkan mengalami penurunan signifikan hingga menyentuh level diskon untuk pertama kalinya sejak April lalu. Pelemahan harga ini juga diikuti oleh penurunan premi minyak mentah jenis ESPO milik Rusia, menyusul langkah para pedagang yang terpaksa memangkas harga demi memikat para pembeli di China yang tengah mengurangi aktivitas pembelian akibat kelesuan pasar.

Dilansir dari Reuters, merosotnya harga minyak mentah dari dua negara tersebut diperkirakan bakal menggerus pendapatan energi Rusia dan Iran. Bagi Iran, situasi ini memperberat tekanan ekonomi setelah sebelumnya harus menghadapi blokade ketat dari Amerika Serikat yang telah memangkas volume ekspor mereka secara drastis. Kargo minyak mentah jenis Iranian Light untuk pengiriman bulan ini ke Provinsi Shandong di China bagian timur kini ditawarkan dengan potongan harga berkisar antara 50 sen hingga 1 dolar AS per barel terhadap kontrak ICE Brent, padahal dalam dua bulan sebelumnya minyak jenis ini masih menikmati premi sebesar 1 hingga 2 dolar AS per barel.

Read More

Provinsi Shandong sendiri dikenal sebagai basis utama bagi para penyuling independen, yang kerap dijuluki sebagai kilang teapot. Kelompok penyulingan swasta inilah yang selama ini menjadi konsumen utama bagi komoditas minyak mentah dari negara-negara yang sedang dijatuhi sanksi internasional. Selain Iran, harga minyak Rusia jenis ESPO yang juga populer di kalangan kilang independen terpantau melemah menjadi premi sekitar 3 hingga 4 dolar AS per barel terhadap ICE Brent untuk pengiriman Juni, turun dari posisi bulan lalu yang masih berada di kisaran 4 hingga 5 dolar AS per barel.

Para analis industri energi mencatat bahwa para pembeli di China tidak terburu-buru meningkatkan volume pengadaan meskipun pasokan di pasar global tergolong ketat. Kondisi tersebut dipicu oleh tingkat harga yang dinilai masih terlalu tinggi bagi kilang-kilang teapot yang saat ini sedang menderita kerugian besar akibat tingginya biaya modal minyak mentah dan lemahnya permintaan bahan bakar domestik. Sebagai dampaknya, beberapa kilang independen mulai menurunkan tingkat operasi mereka sejak Mei lalu, yang berujung pada penurunan kumulatif terhadap volume permintaan.

Data dari lembaga pelacak komoditas Kpler menunjukkan bahwa impor minyak Iran oleh China pada Mei merosot hingga menyentuh angka 1,10 juta barel per hari, yang menjadi level terendah sejak Januari 2025. Sementara itu, impor minyak mentah dari Rusia juga terpangkas menjadi 1,04 million barel per hari, mencatatkan catatan terendah sejak Agustus tahun lalu.

Pelemahan harga minyak Iran ini tetap terjadi meskipun volume ekspor total negara tersebut telah ambruk dan stok di luar negeri kian menipis. Berdasarkan catatan Kpler, ekspor minyak mentah keseluruhan dari Iran pada Mei jatuh ke level terendah dalam enam tahun terakhir menjadi hanya sebesar 260.000 barel per hari, atau kurang dari seperlima dari rata-rata tahun 2025 yang mencapai 1,67 juta barel per hari. Sementara itu, data dari OilX menunjukkan angka yang lebih rendah, yakni sekitar 118.300 barel per hari. Di sisi lain, volume minyak Iran yang terapung di perairan luar zona blokade juga menyusut dari sekitar 130 juta barel pada pertengahan April menjadi kisaran 79 juta barel, seiring dengan berjalannya blokade maritim yang diinisiasi oleh Washington.

Related posts