Cerita di atas bukit batu kapur itu tidak pernah benar-benar selesai.
Kastil Beaufort berdiri di ketinggian 717 meter, di tepi tebing yang jatuh curam tiga ratus meter ke aliran Sungai Litani. Orang Arab menyebutnya Qal’at al-Shaqif — “batu besar yang menggantung.” Nama yang tepat. Karena dari sana, segala sesuatu tampak menggantung: Galilea di bawah, perbatasan di kejauhan, dan nasib manusia yang selalu saja diputuskan oleh siapa yang merasa paling tinggi.
Tentara Salib datang pertama. Mereka menyebutnya Beaufort — benteng yang indah. Raja Fulk dari Yerusalem menyerahkan situs ini kepada bangsawan Sidon untuk dibangun menjadi tembok terdepan Kerajaan Yerusalem pada 1139. Tapi keindahan tidak pernah cukup untuk menahan sejarah. Salahuddin mengepungnya. Reynald dari Sidon mencoba mengulur waktu dengan tipu diplomatik — berpura-pura simpati, meminta tiga bulan, lalu diam-diam memperkuat dinding. Salahuddin tidak tertipu. Ia memenjarakan Reynald, mengepung lebih ketat, dan baru pada April 1190 benteng itu menyerah.
Setelah itu, kastil berpindah-pindah tangan. Pasukan Templar membelinya. Mamluk merebutnya. Fakhruddin II, amir Druze yang bermimpi tentang otonomi Lebanon, menjadikannya simpul pertahanan — sebelum Utsmaniyah menangkapnya, mengeksekusinya di Konstantinopel, dan menghancurkan bagian atas kastil agar tidak ada yang berani bermimpi lagi.
Kastil lalu jatuh ke tangan keluarga feodal Syiah lokal, klan Sa’b, hingga 1769. Gubernur Akra, Jazzar Pasha, kemudian mengepung dan merebutnya pada 1782, menghancurkan sisa-sisa fortifikasi luar yang masih berdiri. Gempa Bumi Galilea 1837 menyelesaikan apa yang tidak diselesaikan oleh perang: meruntuhkan sebagian besar struktur atas kastil, menjadikannya tambang batu dan kandang domba.
Baru pada 1936, di bawah Mandat Prancis, sejarawan Paul Deschamps dan arsitek Pierre Coupel mengerahkan 65 tentara untuk membersihkan dan mendokumentasikan reruntuhan itu untuk pertama kalinya.
Lalu datang abad ke-20 dengan cara berperangnya yang lebih bising.
PLO menempatinya pada 1976, membangun bunker beton di dalam tulang-tulang kastil abad pertengahan, menembakkan roket ke Galilea. IDF menyerbu pada Juni 1982 dengan bom klaster dan Brigade Golani. Pertempuran berlangsung semalam. Enam tentara Israel gugur, termasuk komandannya. Keesokan harinya, Ariel Sharon (menteri pertahanan Israel saat itu) tiba dengan helikopter dan menyatakan kemenangan tanpa korban. Para prajurit yang kelelahan mendengarnya dalam diam.
Israel bertahan delapan belas tahun. Hezbollah menggerogoti mereka setiap hari. Pada Mei 2000, Israel mundur tergesa, meledakkan pangkalan beton mereka sendiri. Bendera kuning Hezbollah naik ke puncak menara. Dunia Arab merayakannya.
Kemudian tiba saatnya restorasi. Dana Kuwait, $3,5 juta, metode anastilosis — menyusun kembali batu-batu yang berserakan. Selesai 2015. UNESCO memberikan perlindungan. Dunia sejenak percaya bahwa sejarah bisa dirawat.
Tapi pada 31 Mei 2026, IDF merebutnya kembali. Fosfor putih mengepulkan asap di lereng bukit. Kastil direbut tanpa perlawanan — karena memang sudah kosong.
Para prajurit memutar lagu karya Fairuz dari puncak menara. Mereka memutar Waynun — “Di mana mereka?” — suara paling Lebanon, untuk merayakan pendudukan atas tanah Lebanon. Ejekan yang dikemas dalam melodi.
Mungkin itulah ironi terbesar dari Beaufort: ia selalu jatuh dalam kesunyian, dan selalu dirayakan dengan kebisingan.
Ditulis oleh Mattewakkan
Makassar, 6 Juni 2026



