Oleh Sosiawati Masrul
Dosen Ilmu Politik Unismuh Maluku Utara
Konsep soft power yang digagas Joseph Nye puluhan tahun lalu sebenarnya sederhana: penaklukan dunia modern tidak lagi membutuhkan peluru, melainkan daya pikat. Bisa lewat infiltrasi budaya, ideologi, atau sesederhana prestasi di lapangan hijau. Premis politik inilah yang terus mengusik kepala saya setiap kali meneropong peluang tim nasional Jerman pada Piala Dunia 2026 nanti. Ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan taktik sepak bola di sana.
Sebagai pengajar ilmu politik, saya sulit melihat turnamen di Amerika Serikat ini sekadar sebagai kompetisi sepak bola biasa. Bagi Jerman, ini adalah panggung diplomasi dengan narasi sejarah yang amat tebal. Sekitar delapan dekade silam, Amerika Serikat memimpin pasukan Sekutu menyeberangi Atlantik untuk melumpuhkan militer Jerman, meninggalkan trauma dan kehancuran total di tanah Bavaria. Menariknya, di Piala Dunia nanti, giliran Jerman yang bertamu ke daratan Amerika. Tentu bukan untuk membalas dendam dengan angkat senjata, melainkan melakukan sebuah “ekspansi” budaya yang elegan.
Menjadikan sepak bola sebagai panggung pemulihan martabat sebenarnya sudah menjadi DNA Jerman. Empat gelar juara dunia yang mereka koleksi—1954, 1974, 1990, dan 2014—selalu berkelindan dengan momentum sosial-politik yang krusial. Gelar pertama pada 1954, yang legendaris dengan sebutan Das Wunder von Bern(Keajaiban Bern), adalah pasokan moral terbesar bagi rakyat Jerman untuk bangkit dari puing-puing pasca-perang. Trofi tahun 1990 hadir tepat saat tembok pembatas runtuh dan negara mengalami reunifikasi. Sementara kejayaan di Brasil pada 2014 menjadi penegasan dominasi dengan mematahkan mitos bahwa tim Eropa tidak bisa menang di benua Amerika.
Rentetan sejarah ini membuktikan betapa efektifnya Jerman memanfaatkan sepak bola untuk merekonstruksi citra global mereka. Mengangkat trofi di “rumah” mantan penakluk Perang Dunia II akan menjadi demonstrasi soft poweryang paling paripurna. Melalui lapangan hijau, Jerman seolah ingin mengirim pesan ke seluruh dunia: masa lalu yang kelam sudah tuntas dikubur, dan mereka telah lahir kembali sebagai bangsa pemenang lewat cara-cara yang damai.
Uniknya, senjata utama Jerman untuk menuntaskan misi historis ini justru berakar dari gaya mereka bernegara pasca-perang. Trauma terhadap kekuasaan absolut di masa lalu membuat Jerman menata ulang sistem politiknya agar tidak lagi bertumpu pada satu figur sentral, melainkan pada kekuatan institusi dan kerja sama kolektif. Karakter kebangsaan inilah yang sekarang diadopsi secara utuh di ruang ganti tim nasional mereka.
Di Piala Dunia 2026, Jerman akan tampil sebagai sebuah sistem yang murni kolektif. Tidak ada lagi Toni Kroos yang mendikte ritme, atau Thomas Müller yang menjadi dirigen permainan. Banyak pengamat awam menganggap absennya nama-nama besar ini sebagai kelemahan serius. Padahal, dari perspektif sistem, hilangnya ego kebintangan justru membuat mesin Die Mannschaftbekerja tanpa hambatan.
Taktik yang diracik kini murni berbasis pada mekanika tim yang utuh. Setiap pemain di lapangan berfungsi sebagai sekrup dari sebuah mesin besar yang bergerak, bertahan, dan menekan lawan secara sinkron. Dalam turnamen dengan intensitas tinggi, tim yang patuh pada sistem operasional yang rapi sering kali jauh lebih mematikan ketimbang tim yang sekadar berharap pada keajaiban individu.
Kombinasi antara motivasi bawah sadar untuk mengulang sejarah di tanah Amerika dan solidnya permainan kolektif yang mekanis membuat kalkulasi saya cukup bulat. Di partai puncak nanti, siapa pun lawan yang berdiri di seberang lapangan—entah itu Brasil, Argentina, atau Prancis—Jerman yang akan keluar sebagai pemenang.





