Oleh Muhammad Randhy Akbar
Dosen Ilmu Pemerintahan Unismuh Makassar
Pendukung Brazil di Piala Dunia 2026
Gagal melihat bendera tiga warna Italia berkibar di Piala Dunia 2026 jelas menjadi pukulan telak. Bagi para tifosi, absennya Gli Azzurri dari putaran final tentu membuat euforia turnamen terasa ada yang kurang. Apalagi, ini bukan kali pertama kita hanya bisa gigit jari melihat kemeriahan dari jauh. Meski begitu, magnet Piala Dunia terlalu kuat untuk dilewatkan. Ketika tim kebanggaan harus menjadi penonton, dukungan saya beralih pada satu tim yang membawa sentuhan khas Italia di dalamnya: Brasil, dengan Carlo Ancelotti sebagai komandonya. Melalui sosok Don Carlo, rasanya pendukung Italia masih punya “wakil” di turnamen sebesar ini.
Membahas Piala Dunia jelas tidak bisa mengesampingkan Brasil. Dengan lima bintang di dada, Selecao adalah representasi kemegahan turnamen itu sendiri. Menjelang edisi 2026 yang dihelat di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, ada satu tren sejarah yang sangat memihak tim-tim Amerika Selatan. Secara historis, Secara historis, tanah Amerika Utara terbukti sangat bersahabat bagi mereka.
Kita bisa mundur ke Piala Dunia 1970 di Meksiko. Saat itu, Brasil racikan Mario Zagallo yang dimotori Pelé tampil tanpa cela dan keluar sebagai kampiun. Cerita manis itu berulang di tahun 1994 saat Amerika Serikat menjadi tuan rumah. Brasil kembali mengangkat trofi emas—yang secara ironis didapat setelah menundukkan Italia lewat adu penalti di laga final. Tak ketinggalan, Argentina juga mencicipi kejayaan di tanah Meksiko pada 1986. Iklim, kedekatan geografis, dan atmosfer benua Amerika terbukti selalu memantik gairah sepak bola Latin hingga ke titik maksimal.
Berbekal catatan sejarah tersebut, sangat masuk akal memprediksi Brasil akan kembali merajai dunia di 2026. Namun, bagi seorang pendukung Italia, alasan mendukung Brasil kali ini jauh lebih personal. Jauh sebelum mengoleksi puluhan trofi bergengsi, Ancelotti muda merumuskan visi sepak bolanya saat menimba ilmu di Coverciano. Ia menyusun riset kepelatihan berjudul “Il Futuro del Calcio: Più Dinamicità” yang bermakna “Masa Depan Sepak Bola: Lebih Banyak Dinamisme”.
Gagasan soal dinamisme inilah yang menjadi jawaban pasti atas kelemahan Brasil selama ini. Dalam beberapa dekade terakhir, Brasil tidak pernah kekurangan talenta. Mereka punya individu-individu brilian yang bisa menari di lapangan. Masalahnya, mereka kerap runtuh oleh kedisiplinan taktis negara-negara Eropa di fase krusial. Di sinilah sentuhan Ancelotti akan bekerja. Kehebatannya dalam merangkul pemain dan meramu taktik akan menyuntikkan pragmatisme serta soliditas pertahanan khas Italia, tanpa perlu memasung kreativitas asli Jogo Bonito. Ancelotti akan menjadi jembatan sempurna yang mengawinkan keindahan seni Amerika Latin dan mentalitas baja Eropa.
Satu lagi tantangan yang membuat skenario ini semakin epik: mitos pelatih asing. Sejak Piala Dunia digulirkan pertama kali pada 1930, belum ada satu pun negara yang berhasil meraih gelar juara dunia saat dilatih oleh sosok dari luar negaranya. Kutukan ini sudah bertahan hampir seratus tahun. Namun, rekor memang diciptakan untuk dipatahkan. Dengan karismanya yang menenangkan dan jiwa pemenang asli Italia, Ancelotti punya kapasitas penuh untuk meruntuhkan kemustahilan sejarah tersebut.
Pada akhirnya, jika prediksi ini terwujud di Amerika Utara nanti, Brasil yang akan berpesta dan menyematkan enam bintang di dada. Namun, saat trofi itu diangkat, kita para pendukung Italia bisa ikut tersenyum bangga. Sebab, di balik gemerlapnya kejayaan Tim Samba, ada otak jenius asal Italia yang membuktikan bahwa dinamismenya lagi-lagi mampu menaklukkan trofi.





