JAYAPURA, MAKASSARTREND — Atmosfer menyambut Piala Dunia 2026 kian terasa di seantero negeri, tak terkecuali di Kota Jayapura, Papua. Salah satu potret fanatisme tinggi itu datang dari Hendry Bakri, seorang dosen di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ). Pria asal Ambon kelahiran 1989 tersebut dikenal sebagai loyalis garis keras tim nasional Belanda.
Bagi Hendry, dukungannya terhadap De Oranje bukanlah fenomena baru. Pilihan hatinya ini dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggalnya di Kawasan Timur Indonesia, tempat di mana fanatisme dan bendera Belanda sewaktu-waktu bisa mendominasi jalanan setiap kali turnamen besar sepak bola bergulir.
Awal Mula Terpikat Total Football
Ketertarikan Hendry pada Belanda pertama kali membekas kuat dalam ingatannya pada akhir 1990-an hingga pergantian milenium. Sebagai anak laki-laki yang tumbuh di era tersebut, ajang Piala Dunia 1998 di Prancis menjadi panggung pertama yang benar-benar ia ikuti secara emosional. Saat itu, ia terpikat oleh filosofi permainan Belanda yang legendaris: Total Football.
Gaya permainan yang mengedepankan kolektivitas, penguasaan bola, serta fleksibilitas posisi antarpemain langsung mengunci kekagumannya. Selain faktor taktis, kedekatan emosional Hendry semakin erat karena ia menyadari banyaknya pemain bintang Belanda yang memiliki darah atau keturunan Indonesia, khususnya wilayah Maluku yang merupakan tanah kelahirannya.
Kecintaan itu terus dirawat secara konsisten. Bahkan selama menempuh studi S1 dan S2 di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, identitasnya sebagai pendukung setia raksasa Eropa ini tidak pernah luntur.
Konvoi Oranje Jayapura dan Asa di Piala Dunia 2026
Di ajang Piala Dunia 2026 yang akan segera bergulir mulai 11 Juni mendatang, harapan Hendry kembali membubung tinggi. Komposisi skuad asuhan Ronald Koeman dinilai memiliki energi baru yang menjanjikan. Salah satu nama penting yang menjadi alasan kuatnya untuk optimis adalah Tijjani Reijnders, gelandang andalan Manchester City yang juga memiliki garis keturunan Maluku, Indonesia. Keberadaan Reijnders di lini tengah dianggap merepresentasikan kebanggaan tersendiri bagi para pendukung Belanda di Indonesia Timur.
Untuk membuktikan totalitas dukungannya, Hendry bersiap turun ke jalan pada hari Sabtu, 6 Juni 2026 ini. Ia dijadwalkan bergabung dalam konvoi akbar bersama komunitas pendukung Tim Oranje di Jayapura.
Rombongan pencinta warna oranye tersebut akan bergerak bersama-sama dalam sebuah arak-arakan kendaraan menuju “Kampung Piala Dunia”, sebuah kawasan yang sengaja diinisiasi oleh komunitas lokal sebagai pusat berkumpul dan nonton bareng selama turnamen berlangsung. Aksi ini menjadi bukti nyata bahwa bagi seorang akademisi seperti Hendry, sepak bola dan kesetiaan pada sebuah tim adalah ruang gembira yang selalu layak dirayakan.***





