SUNGGUMINASA, MAKASSARTREND — Momentum perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Kabupaten Gowa menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat kohesi sosial dan pemerataan pembangunan daerah. Dalam pelaksanaan salat Id yang dipusatkan di Lapangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Syekh Yusuf, Rabu (27/5/2026), esensi pengorbanan dan keikhlasan ditekankan sebagai modal dasar bagi transformasi kemasyarakatan di wilayah tersebut. Kehadiran ribuan warga bersama jajaran otoritas lokal menegaskan kembali pentingnya sinergitas antara kebijakan publik dan partisipasi akar rumput dalam pembangunan daerah yang inklusif.
Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang dalam sambutannya menyatakan bahwa nilai-nilai universal yang terkandung dalam ibadah kurban harus ditransformasikan ke dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui penguatan kepedulian sosial. Menurut Husniah, pembangunan sebuah daerah tidak dapat berjalan optimal jika hanya bertumpu pada pendekatan struktural pemerintahan tanpa diiringi oleh rasa kebersamaan dan kerelaan untuk saling membantu antarwarga. Nilai kurban mengajarkan bahwa pembangunan daerah membutuhkan keikhlasan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama, yang harus hadir dalam bentuk sikap saling menopang di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Dari perspektif kebijakan publik, Pemerintah Kabupaten Gowa saat ini terus berupaya mengarahkan program pembangunan agar dampaknya dapat terdistribusi secara merata hingga ke tingkat pelosok desa. Keberhasilan suatu orientasi pembangunan tidak lagi semata-mata diukur dari pencapaian indikator makroekonomi atau pembangunan fisik di pusat kota, melainkan dari sejauh mana rasa aman, keadilan sosial, dan kesejahteraan substantif dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Di tengah dinamika sosial yang dinamis, masyarakat membutuhkan keteladanan yang menyejukkan serta penguatan ikatan persaudaraan guna menjaga stabilitas dan kedamaian wilayah.
Sinergitas ini juga menuntut dihidupkannya kembali pranata sosial tradisional seperti gotong royong, yang dinilai mulai mengikis akibat arus modernisasi. Urusan memajukan daerah bukan merupakan tanggung jawab tunggal birokrasi, melainkan sebuah kerja kolektif yang membutuhkan legitimasi dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat. Kolaborasi yang inklusif antara pemerintah, sektor swasta, dan warga menjadi prasyarat mutlak agar Kabupaten Gowa dapat berkembang menjadi daerah yang maju, damai, dan memiliki ketahanan sosial yang kuat di masa depan.
Pelaksanaan ibadah yang berlangsung khidmat tersebut dipimpin oleh Muhammad Syahrul Habib selaku imam, dengan khotbah yang disampaikan oleh KH Ambo Asse. Dalam pesan keagamaan yang disampaikan, khatib mengingatkan jamaah mengenai pentingnya meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai fondasi spiritual dalam menghadapi realitas sosial. Pengorbanan sejati yang lahir dari ketulusan hati harus dimanifestasikan ke dalam kesediaan untuk berbagi, menjaga integrasi persaudaraan, serta senantiasa memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Kegiatan keagamaan ini turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa Andy Azis, jajaran perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta para pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lingkup Pemerintah Kabupaten Gowa. Kehadiran jajaran birokrasi di tengah-tengah warga ini sekaligus menjadi simbol komitmen pelayanan publik yang berbasis pada pendekatan kultural dan keagamaan di Kabupaten Gowa. (MAQ)














