MAKASSAR, MAKASSARTREND— Demam Piala Dunia 2026 mulai menjangkiti berbagai kalangan, tidak terkecuali para penyelenggara pemilu di daerah. Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Makassar, Risal Suaib, secara terbuka menyatakan dukungannya untuk tim nasional Portugal dalam turnamen akbar yang dijadwalkan akan kick-off pada 11 Juni 2026 di Stadion Azteca, Meksiko.
Menariknya, dukungan Risal terhadap tim berjuluk Seleção das Quinastersebut bukan sekadar euforia sesaat karena keberadaan sosok megabintang Cristiano Ronaldo. Kecintaannya pada Portugal ternyata sudah mengakar dan dirawat sejak puluhan tahun silam.
Terpikat Generasi Emas Era 90-an
Romansa sepak bola Risal dengan Portugal bermula pada era 1990-an. Saat itu, Portugal sedang melahirkan The Golden Generationatau Generasi Emas yang dipimpin oleh maestro lapangan tengah seperti Luís Figo, Rui Costa, dan João Pinto. Gaya permainan yang elegan, penuh teknik tinggi, dan dikombinasikan dengan kreativitas tanpa batas langsung memikat hatinya sejak masa-masa muda.
Memori kolektif tersebut membekas kuat, terutama saat menyaksikan kehebatan Portugal di Piala Eropa 2000 yang berhasil menembus semifinal dengan permainan flamboyan yang menghancurkan tim-tim besar seperti Jerman dan Inggris. Begitu pula pada Piala Dunia 2006 di Jerman, Risal menjadi saksi transisi penting ketika tongkat estafet kepemimpinan tim mulai bergeser dari Luís Figo kepada Cristiano Ronaldo muda yang baru bersinar.
Tautan Sejarah: Hubungan Akrab Gowa dan Portugal
Bagi Risal, mendukung Portugal terasa memiliki kedekatan emosional yang lebih personal. Faktanya, masyarakat Sulawesi Selatan dan bangsa Portugal bukanlah orang asing. Jauh sebelum era sepak bola modern, kedua wilayah ini telah mengukir catatan sejarah bersama secara harmonis pada abad ke-16 dan ke-17.
Hubungan persahabatan dan perdagangan ini pertama kali diikat sejak tahun 1538 pada masa pemerintahan Raja Gowa IX, Tumapa’risi Kallonna, dan berlanjut erat di era Raja Gowa X, Tunipalangga. Berbeda dengan bangsa Eropa lain yang datang dengan ambisi monopoli dan konfrontasi, Portugal diterima dengan sangat baik oleh para penguasa Gowa karena menghormati prinsip perdagangan bebas yang dianut Makassar.
Hingga memasuki abad ke-17, aliansi strategis ini terus dirawat oleh para penerusnya, termasuk saat masa keemasan Raja Gowa XV, Sultan Muhammad Said, yang didampingi perdana menteri legendaris Karaeng Pattingalloang. Hubungan persahabatan yang setara, saling menghormati, dan saling menguntungkan di masa lalu inilah yang dinilai Risal memberi warna historis tersendiri pada pilihannya.
Harapan Besar dan Kedalaman Skuad 2026
Lewat kombinasi kesetiaan masa muda dan tautan sejarah masa lalu, Risal berharap puncak kejayaan tertinggi dapat direngkuh Portugal di Piala Dunia 2026 yang akan bergulir sepanjang Juni hingga Juli ini. Setelah penantian panjangnya sempat terbayar sebagian lewat trofi Piala Eropa 2016 lalu, kini saatnya mereka menguasai dunia.
Risal sangat optimis karena skuad Portugal saat ini memiliki kedalaman tim yang luar biasa matang di setiap lini. Di sektor serang, selain kehadiran sang kapten legendaris Cristiano Ronaldo, tim ini disokong oleh para pembuat perbedaan seperti Bruno Fernandes, Bernardo Silva, Rafael Leão, dan João Félix.
Sementara di lini tengah dan pertahanan, kekuatan mereka kian solid dengan keberadaan jangkar tangguh João Palhinha, bek tangguh Rúben Dias, serta talenta muda berbakat seperti João Neves dan bek sayap eksplosif Nuno Mendes. Kombinasi bintang-bintang penting inilah yang membuat Risal yakin Portugal siap mencetak sejarah baru dan membawa pulang trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya ke Lisbon.





